Pandangan Alkitab Terhadap Ramalan, Tenungan, dan Sebagainya
Bacaan
Alkitab: Ulangan 18:9-14
“Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki ini mendengarkan kepada
peramal atau petenung, tetapi engkau ini tidak diizinkan TUHAN, Allahmu,
melakukan yang demikian.”
(Ul 18:14)
Pandangan Alkitab
Terhadap Ramalan, Tenungan, dan Sebagainya
Banyak suku bangsa di dunia ini yang memiliki “budaya”
ramal-meramal. Tidak usah jauh-jauh, di suku Jawa saja, biasanya ketika
seseorang mau mengadakan suatu acara semisal acara pernikahan, maka akan
dihitung “hari baik” berdasarkan tanggal lahir kedua calon mempelai berdasarkan
kalender jawa. Saya sendiri tidak terlalu memikirkan hal tersebut karena toh
menurut pendapat saya semua hari baik, karena ketika Tuhan menciptakan segala
sesuatu di langit dan bumi, Tuhan selalu melihat bahwa segala sesuatunya baik.
Bahkan di masa modern seperti saat ini, justru saya
melihat ada kemunduran moral pada manusia. Jika kita lihat, manusia sekarang
justru terikat dengan apa yang disebut ramalan. Lihat saja majalah-majalah yang
beredar di Indonesia saat ini, mulai dari majalah remaja, majalah pemuda,
majalah ibu-ibu hingga majalah bapak-bapak pun biasanya memiliki rubrik “Zodiak
Anda”, yang menunjukkan ramalan per masing-masing zodiak untuk minggu atau
bulan tersebut. Herannya, itu menjadi rubrik yang paling dicari-cari oleh orang
yang membaca majalah tersebut, walaupun mungkin hanya iseng belaka atau bahkan
memang karena mereka percaya akan ramalan zodiak tersebut.
Lalu apa kata Alkitab terhadap ramalan? Setelah saya
mencari di dalam Alkitab, saya teringat akan bagian Alkitab yang saya kutip
hari ini. Kitab Ulangan bercerita tentang kisah perjalanan Israel dari Mesir ke
Tanah Perjanjian secara ringkas. Inti utama dari kitab ini adalah bagaimana
Musa mengingatkan bangsa Israel untuk tidak berpaling dari Tuhan Allah dan
tidak mengikuti cara-cara yang dilakukan bangsa-bangsa lain, karena mereka
adalah bangsa yang kudus (ay. 9). Salah
satunya adalah terkait dengan ilmu sihir (magic)
yang umum dilakukan bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan, seperti
mempersembahkan anak menjadi korban dan juga meramal nasib, bertanya kepada
arwah, dan lain sebagainya (ay. 10-11).
Ketika Alkitab menulis seperti ini, berarti memang pada
dasarnya aktivitas ini sudah terjadi sejak dulu kala, dan juga terjadi di
mana-mana. Bangsa mana yang tidak punya kebiasaan ramal-meramal? Bangsa mana
yang tidak mengenal adanya tumbal untuk mendapatkan sesuatu? Bahkan di
Indonesia ini pun penuh dengan hal-hal seperti itu. Alkitab tidak mengatakan
bahwa ramalan itu hanyalah joke semata. Praktek sihir seperti itu memang ada
dan memang bisa berhasil. Akan tetapi semuanya itu dikarenakan bahwa
sesungguhnya mereka sedang beribadah kepada Iblis.
Oleh karena itu Tuhan berfirman agar bangsa Israel tidak
ikut-ikutan hal ini, dan tidak meniru apa yang dilakukan bangsa-bangsa lain,
karena semua itu adalah kekejian di hadapan Tuhan (ay. 12). Tuhan ingin agar
bangsa Israel senantiasa mengandalkan Tuhan dalam segala hal, tidak
mengandalkan peramal atau petenung (ay. 14). Tuhan ingin agar bangsa Israel
kudus dan tidak bercacat dan bercela di hadapan Tuhan (ay. 13).
Hal yang sama juga masih berlaku bagi kita, anak-anakNya
yang hidup di masa sekarang ini. Ketika sekitar 3000 tahun yang lalu Tuhan saja
sudah berfirman seperti itu, masihkah kita sekarang meminta ramalan kepada
orang lain? Saya sendiri melihat bahwa orang yang suka diramal, sesungguhnya
hidupnya menjadi terikat dengan roh peramal itu sendiri. Padahal sesungguhnya
orang percaya hidupnya sudah ada di tangan Tuhan. Jadi seharusnya kita
menanyakan masa depan kita kepada Tuhan yang adalah pemilik hidup kita, bukan
kepada peramal. Bukankah Tuhan jauh lebih besar dari apapun yang ada di dunia
ini? Bukankah Tuhan juga sudah berjanji bahwa akan memberikan masa depan yang
penuh harapan kepada kita (Yer 29:11)?
Iblis pun bisa menyamar menjadi malaikat terang (2 Kor
11:14). Iblis pun bisa memberikan kekayaan yang luar biasa, bahkan Iblis pernah
menawarkannya kepada Yesus ketika mencobaiNya di padang gurun (Mat 4:8-9).
Tetapi semuanya itu tidak akan berarti karena jiwa kita menjadi milik Iblis.
Alkitab mengatakan untuk apa kita memperoleh seisi dunia tetapi jiwa kita
binasa (Mat 16:26)? Saya sangat sedih ketika banyak orang pergi ke dukun hanya
untuk mencari kesembuhan, mencari kekayaan, atau bahkan mencari santet dan
pelet untuk mendapatkan sesuatu di dunia ini. Bukan di dunia ini yang kita
cari, tetapi di surga nanti. Hidup kita harus kita persiapkan untuk hidup di surga
nanti. Bagi kita anak-anak Tuhan, penyertaan dan perlindungan Tuhan sudah
sangat cukup bagi kita. Tidak perlu ikut-ikutan orang dunia yang meminta berkat
ke dukun, meminta perlindungan terhadap santet, dan lain sebagainya. Tuhanlah
Allah kita. Tidak akan ada mantera yang mempan terhadap kita (Bil 23:23),
selama kita setia mengiring Tuhan dan sepanjang kita tidak membuka celah.
Bacaan
Alkitab: Ulangan 18:9-14
18:9 "Apabila engkau sudah masuk ke negeri yang
diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau belajar berlaku
sesuai dengan kekejian yang dilakukan bangsa-bangsa itu.
18:10 Di antaramu janganlah didapati seorang pun yang
mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam
api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah,
seorang penyihir,
18:11 seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya
kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada
orang-orang mati.
18:12 Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini
adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN,
Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu.
18:13 Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di
hadapan TUHAN, Allahmu.
18:14 Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki
ini mendengarkan kepada peramal atau petenung, tetapi engkau ini tidak
diizinkan TUHAN, Allahmu, melakukan yang demikian.
No comments:
Post a Comment